[OneShot] 2nd Chance, 1st Confession

untitled123ghhg

Second chance, first confession

Author  :  ChoaiAK

Genre  :  General, Life, Friendship, Romance  ||  Length  :  Oneshot  ||  Rating :  PG-15  ||

Main Cast  :  Lee Jaehwan (Vixx), Son Hemi (OC)||

Summary :

“aku minta maaf kalau aku tidak tau kamu sakit. Aku minta maaf kalau sikapku menyakitimu saat itu. aku minta maaf kalau…“

“semuanya sudah berubah. Aku sudah melupakannya dan kamu juga harus melupakannya…”

1st OneShot :  A Chance to Say

Also at:

http://choaichapters.wordpress.com/

****

Hemi sekali lagi memperhatikan dirinya di cermin. Sudah jauh lebih baik, dia mungkin saja tidak mengenaliku. Mungkin. Setelah hampir empat tahun tidak bertemu dengan keluarga Lee, mungkin saja mereka tidak akan langsung mengenalinya yang sudah berubah dari gadis bertubuh gempal dengan rambut pendek berwarna kemerahan dan kulitnya yang putih pucat menjadi seorang gadis 19 tahun dengan tubuh langsing 168 cm dan rambut panjang hingga kepinggang. Kulitnya yang putih pucat dan warna rambutnya yang coklat kemerahan masih tetap sama.

Beberapa bulan setelah ikut kedua orang tuanya pindah ke Jeju-do, Hemi kemudian berangkat ke Irlandia untuk tinggal bersama kedua orang tua dari ibunya yang memang berdarah Korea-Irlandia. Sekarang dia kembali ke Korea dan akan bertemu kembali dengan keluarga Lee yang sudah sangat dekat dengan keluarganya. Tidak sabaran bertemu dengan nenek Lee, Paman Lee dan Bibi Lee. Dia bahkan tidak sabar untuk segera bertemu dengan Jung Hee, putri pertama keluarga Lee yang sejak kecil sudah sangat memanjakannya.

“Hemi!”

“Yaa??” dia menyahut dari dalam kamarnya saat mendengar suara ibunya. “aku segera turun!”

Dia sekali lagi melihat dirinya dicermin dan tersenyum lalu mengambil jaketnya dan keluar dari dalam kamarnya. Melihat ayah dan ibunya sedang bersiap-siap untuk segera berangkat membuat Hemi semakin tidak sabaran. Dia seakan lupa bahwa ini untuk pertama kalinya dia akan bertemu lagi dengan satu-satunya putra keluarga Lee, Lee Jae Hwan, yang sesaat sebelum dia pergi sama sekali belum menyelesaikan masalahnya dengan pemuda itu.

“kamu sudah siap” Hemi mengangguk kearah ayahnya.

“dia memang selalu terlihat siap.” Ibunya ikut memberi komentarnya melihat Hemi yang sudah siap sedia. “coba eomma lihat.” Hemi tersenyum pada ibunya dan memeluk wanita itu sebelum dia mengatakan apa-apa. “terima kasih karena sudah membawaku pulang, eomma.”

“terima kasih karena kamu berhasil bertahan, sayang.”

Penyakit yang menggerogoti tubunya sejak empat tahun lalu dinyatakan bersih setelah melewati banyak pengobatan selama dia tinggal di Irlandia. Sepupu ibunya yang berwarganegara irlandia yang berprofesi sebagai seorang dokter merawatnya selama 24/7 sampai dia benar-benar dinyatakan sehat. Karena penyakit itu pula dia harus mendapatkan pendidikannya melalui home-scholling sampai dia mendapatkan ijazah kelulusannya untuk bisa masuk ke univeristas.

“sudah, sudah. Sebaiknya kita berangkat sekarang. Keluarga Lee pasti sedang menunggu kedatanganmu saat ini. Mereka rindu sekali padamu.” Ayahnya ikut memeluk kedua wanita dalam hidupnya sebelum mendorong mereka untuk segera keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil.

*****

Sejak tiga tahun yang lalu keluarga mereka pindah ke Seoul dan sejak itu dia tidak pernah mendengar kabar dari keluarga Son. Terakhir yang dia dengar adalah putri satu-satunya keluarga Son berangkat ke Irlandia untuk mendapatkan perawatan intensif dari salah satu keluarga ibunya yang berasal dari Irlandia yang seorang dokter penyakit dalam karena Hemi yang ternyata sudah mengidap kanker hati selama beberapa bulan sebelum keluarga mereka pindah ke jeju-do.

Hari ini keluarga mereka akan kedatangan tamu, keluarga Son. Kakaknya, Lee JungHee, yang sudah menikah tiga tahun lalu dan mempunyai putri berusia 2 tahun sejak kemarin tidak henti-hentinya mengatakan Hemi ini, Hemi itu dan semua tentang Hemi. Tidak ada yang bertanya tentang pendapatnya, karena memang tidak ada yang tau apa yang terakhir kali terjadi antara dia dan Hemi yang sampai sekarang masih menjadi penyesalan baginya. Lalu bagaimana dia harus berhadapan dengan Hemi setelah empat tahun ini?

“kamu yakin pacarmu tidak marah karena kamu pulang mendadak kerumah?”

Jae Hwan melempar pandangannya kearah Jung Hee yang tidak henti-hentinya bertanya pertanyaan yang sama padanya, “aku tidak punya pacar, noona. Aku sudah bilang itu berkali-kali.”

“ah, benar juga.” Balas JungHee. “aku lupa kalau kamu sedang tidak suka perempuan.”

“YA! Lee Jung Hee!”

Dia baru meneriaki nama kakaknya, neneknya yang sudah berusia lebih dari 80 tahun datang menghampiri mereka dan duduk disamping Jae Hwan. “kamu tidak boleh meneriaki noonamu seperti itu.”

“dia mengataiku sedang tidak suka perempuan.”

“karena kamu memang tidak pernah terlihat dengan perempuan manapun.” Balas neneknya. Junghee yang sedang menimang bayinya ikut tertawa dengan apa yang baru saja didengarnya. “kamu selalu terlihat dengan pemuda-pemuda itu. Meskipun kalian tampan, tapi kalau tidak ada satupun perempuan yang mendekati kalian, nanti kalian bisa dicurigai suka sesama jenis.”

“Halme!” wanita tua itu tertawa melihat Jae Hwan yang merengut kesal karena dicandai oleh nenek dan kakaknya.

Dia tidak pernah berpikir untuk tidak mencari pacar. Sejak masih anak-anak hingga menjadi pemuda seperti sekarang ini, dia sudah banyak mengenal perempuan yang mau menjadi kekasihnya. Tidak hanya karena wajahnya yang tampan dan pendidikannya di universitas bergengsi tapi juga karena keluarganya yang bisa dibilang berada. Meski tidak mau bergantung dengan kekayaan yang dimiliki oleh orang tuanya, tidak satu atau dua orang yang berusaha menjadi pacarnya karena berpikir dia akan memberikan keuntungan yang mereka inginkan.

“Hyang Seon-ah, pukul berapa mereka sampai kemari?”

Jea Hwan melihat ayahnya menunggu pria itu menjawab pertanyaan yang diajukan Halme Lee. Dia melihat ayahnya melirik jam tangannya, “mungkin sebentar lagi. Byeong Hee menghubungiku satu jam yang lalu.”

“memangnya sekarang mereka tinggal dimana?” Jae Hwan bertanya pada neneknya.

“Seoul.” Jung Hee yang menjawab lebih dulu. “makanya sering-seringlah pulang. Jangan terlalu sering bermain dengan teman-temanmu yang juga tidak punya pacar itu.”

“NOONA!!”

Jae Hwan menggerutu kesal sementara kedua orang tua, nenek dan kakaknya tertawa mendengar gurauan JungHee.

“mana suamimu? Dia tidak datang kemari?”

“di kantor tentu saja,” jawab Jung Hee. “setidaknya dia lebih seperti anak keluarga Lee daripada kamu.”

“Aish!” Jae Hwan melemparkan bantal kecil yang ada di atas sofa ruang keluarga mereka kearah Jung Hee dengan kesal.

Jae Hwan sibuk mengganti channel TV saat mendengar suara mobil di depan rumah mereka. Menyadari mobil itu berhenti didepan rumah mereka, Jung Hee yang lebih dulu berlari keluar dan berteriak kegirangan saat melihat tamu mereka. Jae Hwan menyusul setelah ibu dan neneknya menyusul ayah mereka yang juga keluar bersama Jung Hee.

“Min Kyung,” dia mendengar suara ibunya memanggil nama ibu Hemi.

Jae Hwan berdiri di dekat pintu rumahnya memperhatikan pemandangan saling melepas rindu selama tiga tahun tidak bertemu. Dia tidak melihat Hemi sama sekali, namun baru saja mengira kalau Hemi tidak datang bersama orang tuanya dia melihat seorang gadis melepaskan pelukan dari tubuh kakaknya.

Tidak mungkin, tidak mungkin gadis itu Hemi. Tidak mungkin itu Heminya.

Jae Hwan tidak melepaskan pandangannya dari gadis yang sedang memeluk nenek dan ibunya itu, begitu pula gadis itu tidak melihat kearahnya. Setelah selesai dengan acara saling berpelukan barulah dia dan gadis itu saling bertukar pandang. Sesaat Jae Hwan mengira gadis itu tidak akan tersenyum kearahnya karena dia sama sekali tidak terlihat akan tersenyum namun beberapa saat kemudian dia melihat senyuman yang sudah lama tidak dilihatnya masih sama seperti yang dilihatnya sejak mereka masih kecil hingga empat tahun lalu.

“Hemi, kamu masih ingat dengan Jae Hwan, kan?” Jae Hwan melihat ayahnya yang sedang merangkul Hemi mendekat kearahnya.

“tentu saja aku ingat ajusshi.” Hemi melihat lurus kearahnya. “kami hanya tidak bertemu selama empat tahun. Mungkin dia yang tidak ingat padaku.”

Jae Hwan masih tidak bisa berkata apa-apa didepan Hemi yang berdiri didekatnya saat ini. “aku-“

“tentu saja,” ujar Hyang Seon. “coba lihat, boneka chubby JungHee sudah berubah menjadi bidadari.”

Jung Hee kemudian ikut memeluk Hemi dari belakang, “aku setuju, dia benar-benar cantik. Iyakan Jae Hwan?”

Jae Hwan masih terpana dengan orang di depannya. Gadis itu menyunggingkan senyum padanya. Benar-benar tersenyum. Lalu Junghee tiba-tiba menarik Hemi masuk kedalam rumah.

Baiklah, sepertinya ini akan sangat berat.

Dua kelaurga duduk diruang tengah bersama-sama. Saat semua orang memperhatikan perubahan Hemi, Jae Hwan hanya bisa melihat setiap orang yang mengeluarkan suaranya. Ibunya, neneknya, tapi dia lebih sering melihat Jung Hee karena kakaknya itu tidak berhenti mengajukan pertanyaan pada Hemi.

“bagaimana bisa kamu berubah jadi cantik seperti ini?”

“apa aku cantik?” Hemi membalikkan pertanyaan Jung Hee. “ceritanya sangat panjang dan prosesnya sangat-sangat rumit, eonni.”

“kamu benar-benar sakit?”

Hemi menggelengkan kepalanya. Ekspresinya seakan dia menjawab dengan jujur, “aku baik-baik saja.”

“cuaca irlandia bagus untukmu?”

“sangat bagus.”

Jea Hwan tidak bisa melepaskan pandangannya dari Hemi yang dimatanya terlihat berbeda, tidak, sangat berbeda dari anak perempuan yang empat tahun lalu karena didepan keluarga mereka Hemi bisa dengan mudahnya tersenyum bahkan tertawa pada semua orang. Tidak sanggup melihat pemandangan yang tidak bisa dimengerti oleh otaknya, Jae Hwan memutuskan untuk beranjak dari sana.

“Jae Hwan, mau kemana?”

Jae Hwan menoleh pada ibunya, “kebelakang.”

‘—Anak perempuan yang setiap jalan pulang dari sekolah hanya berjarak beberapa langkah dibelakangmu. Aku,- aku menyukaimu, Lee Jaehwan.’

Kalimat terakhir yang diucapkan Hemi sebelum dia pindah kembali berputar dikepalanya. Anak itu pernah sangat marah dan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Dia pernah membuat kesalahan, dia tau itu. Dia menyakiti Hemi dengan cara yang tidak dia sadari. Sekarang hanya berada disana melihatnya tertawa bersama keluarganya yang memuji penampilannya saat ini. Dia keluar melalui pintu belakang rumahnya dan berdiri disana sambil memejamkan matanya untuk beberapa saat.

Sadarlah Lee Jae Hwan. Setelah apa yang kamu lakukan padanya, jangan berharap kalau dia juga akan tersenyum kearahmu.

“kamu tidak suka aku datang?”

Jae Hwan tersentak mendengar suara Hemi di belakangnya. Dia melihat gadis itu menghampirinya dan berdiri disampingnya. Sama-sama melihat pekarangan rumah belakangnya yang tidak terlalu luas namun selalu menjadi tempat yang selalu membuatnya merasa nyaman.

“huh?”

Dia belum punya cukup keberanian untuk menoleh kesamping melihat gadis yang berdiri disampingnya. Sadar kalau Hemi masih menatapnya akhirnya Jae Hwan menyerah dan menoleh melihat kearah gadis itu.

“maaf.” Hanya itu satu-satunya yang bisa dia katakan di depan Hemi.

“untuk?”

“karena sudah menyakitimu. Tidak tau tentang keadaanmu. Dan tidak sempat meminta maaf padamu.”

Dia melihat Hemi tersenyum sambil menatap kosong kedepan, “aku sudah melupakan itu. Jadi kamu juga harus melupakannya.”

“Hemi-ya,”

“aku sudah melewati banyak hal berat sebelum dan setelah hal itu terjadi.” Jae Hwan melihat Hemi tersenyum samar kearahnya. “sudah banyak yang berubah, Lee Jae Hwan.”

“ya, kamu benar. Sudah banyak yang berubah.”

Sesaat mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sebelum Jae Hwan mencoba mencairkan suasana canggung diantara mereka, “apa cuaca Irlandia benar-benar bagus untukmu?”

Hemi tertawa samar dan mengangguk, “aku harus bolak-balik rumah sakit dan selama hampir dua tahun aku hanya melihat pekarangan rumahku kakek nenekku dan halaman rumah sakit. Jika diingat-ingat cuaca disana sangat cocok untukku.”

manhi apa? (benar-benar sakit?)” Dia melihat Hemi mengangguk menjawab pertanyaannya. “maaf aku tidak tau keadaanmu saat itu.”

Kali ini jantungnya mendadak terasa akan memberontak keluar saat tangan Hemi menyentuh kulit lengannya yang saat itu memakai t-shirt berlengan pendek.

“aku sudah bilang kamu harus melupakan hal itu. Jangan diingat lagi. Berapa umurmu sekarang? ah, 21? Kamu terlihat jauh lebih tua.”

“Ya, kamu harus memanggilku Oppa. kamu lebih kecil dariku dua tahun.”

“Oppa?” tanya Hemi. “aku akan pikir-pikir dulu.”

“Ya-“ dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena Hemi sudah kembali masuk kedalam rumah. Dia tidak punya pilihan selain mengikuti gadis itu masuk kedalam.

Tiba akhirnya waktu makan yang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi. Suami Jung Hee, Park Min Woo juga sudah bergabung bersama mereka dan terlihat sedang menimang bayi kecilnya yang berusia dua tahun. Hemi selesai makan lebih dulu dan mengulurkan tangannya pada Min Woo.

“apa aku boleh menggendongnya?”

Semua orang terheran-heran melihat sikap Hemi yang tidak disangka, kecuali kedua orang tuanya Paman dan Bibi Son yang hanya tersenyum melihat Hemi menimang bayi perempuan itu. Jae Hwan harus berusaha keras untuk membuat bayi kecil itu diam dan kalau bisa hanya melihatnya tanpa melakukan apa-apa tapi Hemi melakukannya dengan mudah. Jae Hwan melihat Hemi hanya memandang bayi itu dan tersenyum lalu seakan mengerti bayi kecil itu kemudian mengeluarkan suara tawa kecilnya.

“aku tidak pernah melihat Hemi seperti itu?” gumam Jung Hee. “dia benar-benar cantik.”

“bukankah Hemi sebentar lagi masuk kuliah?” Jae Hwan mendengarkan obrolan ibunya dan ibu Hemi sementara matanya tidak lepas dari gadis itu.

“dia calon dokter.”

“benarkah?” kali ini banyak pasang mata yang ikut memperhatikan.

“kamu masuk jurusan kedokteran?” tanya Jae Hwan penasaran.

Hemi mengangguk, “aku pernah tinggal di rumah sakit dan teman-temanku orang-orang yang berada disana.”

“jadi kamu ingin jadi dokter?” Hemi tersenyum dan mengangguk kearahnya. Dia melihat keponakan kecilnya menarik rambut Hemi untuk menarik perhatian gadis itu.

Melihat Hemi menunjukkan rasa sayangnya pada anak kecil seperti keponakannya saat ini, Jae Hwan sedikit merasa iri. Tidak mungkin aku merasa cemburu pada bayi kecil itu.

****

Hemi sibuk bermain dengan bayi mungil berusia dua tahun itu saat mendengar Jung Hee bertanya padanya. “jadi kira-kira kapan kamu akan pindah ke Seoul?”

“mungkin dalam dua minggu ini.”

“kamu harus hubungi Jae Hwan saat akan pindah biar dia bisa membantumu. Kita bisa jalan-jalan lagi. Aku sudah tidak sabaran jalan-jalan denganmu,”

“karena tidak susah mencari baju untukku lagi, kan?” Mereka tertawa medengar perkataannya yang ceplas-ceplos.

“sepertinya kamu juga harus membawa Jae Hwan untuk membantumu pindahan nanti, sayang.” Hemi melirik kearah ibunya dan mengangguk. “jadi nanti ada dua tenaga pria.”

“Paman Byung Hee juga ikut membantu Hemi pindahan?” tanya Jung Hee.

“tidak,” Hemi baru menyadari apa yang akan dikatakan ibunya tepat saat ibunya menjawab. “Junho akan membantunya.”

“Junho?”

Hemi tidak punya plihan lain, dia tersenyum dan mengangguk. “pacarku, eonni.”

jinjja?” Hemi melihat Jung Hee dengan mata terbuka lebar melihat kearah ibunya. “apa itu benar Bibi?”

“eonni kira aku berbohong?” tanya Hemi. “eonni mau lihat orangnya?” Jung Hee mengangguk cepat.

Hemi mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menunjukkan foto dia dan Junho yang menjadi latar belakang layar ponselnya. Tidak sengaja dia melihat ekspresi Jae Hwan berubah dan kemudian keluar dari ruangan itu. Ada apa dengannya? Tidak mungkin dia cemburu hanya karena keluarganya lebih perhatian padaku.

“tampan sekali.” Puji Jung Hee. “dimana kamu bertemu dengannya? Sudah berapa lama?”

“setahun yang lalu waktu aku jalan-jalan ke Paris.” Mengingat saat pertama kali dia bertemu dengan pemuda yang sedang mengikuti pertukaran pelajar untuk beberapa bulan di Paris.

“sekarang dia disini?”

Hemi mengangguk, “S.U.”

“benarkah?” Jung Hee benar-benar menunjukkan wajah kagumnya. “kamu benar-benar beruntung. uri Jae Hwan bahkan tidak pernah bertemu dengan perempuan manapun.”

ne?

“entah apa yang ada dalam pikirannya, dia selalu pergi bersama teman-temannya yang juga tidak punya pacar.” Ujar Jung Hee sambil menggerutu. “nanti kalau kamu sudah mulai kuliah kenalkan dia dengan teman-temanmu yang cantik, hm?”

Hemi tertawa kecil, “baiklah.” Dia kembali melihat Jung Hee yang sedang memperhatikan footnya bersama Junho. Bahkan sampai menunjukkannya pada Nenek Lee.

Hemi tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melihat kearah Jae Hwan tadi pergi. Kenapa lagi dengan anak itu?.

“apa Jae Hwan baik-baik saja?” tanyanya. “aku lihat beberapa kali dia keluar.”

Jung Hee tersenyum kearahnya dan menepuk pelan punggung tangannya, “dia baik-baik saja. Mungkin kali ini dia naik ke kamarnya. Pergilah, susul dia.”

“huh?” Hemi menatap Jung Hee dengan kening berkerut. “apa tidak apa-apa?”

“ini  bukan pertama kalinya kamu masuk ke kamarnya.”

Dia tertawa mendengar ucapan Jung Hee. “itu saat aku masih kecil.”

“sampai sekarang kamu masih kecil menurutku. Pergilah, mungkin dia masih terkejut bertemu denganmu. Sejak kamu pindah dia jadi uring-uringan dan jarang bicara bahkan dia tidak pernah pergi bermain dengan teman-temannya lagi sampai dia masuk kuliah dan tinggal terpisah dari rumah bersama teman-teman satu kampusnya. Pergilah.”

Hemi terlihat ragu dan hanya melihat kearah tangga yang menuju ke lantai atas dan akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti usul Jung Hee, “baiklah.”

Saat menaiki tangga Hemi melihat beberapa foto yang digantung di dinding yang menarik perhatiannya dan membuatnya tersenyum adalah fotonya yang masih dengan pipi chubby sedang memeluk Jae Hwan sementara pemuda itu tersenyum lebar kearah kamera. Di lantai dua dia bisa langsung bisa mengenali kamar Jae Hwan karena hanya ada satu pintu dengan gantungan bertuliskan ‘Jae’s Room’. Sesaat dia hanya mengepalkan tangannya di depan pintu dan merasa ragu untuk mengetuk pintu itu. Namun pada akhirnya dia tidak punya pilihan lain selain mengetuknya.

“Jae Hwan-ah? Boleh aku masuk?”

Dia baru akan mengetuk sekali lagi saat pintu tiba-tiba terbuka. Jae Hwan berdiri disana tanpa ekspresi. Hemi melihat pemuda itu bergerak kesamping memberikannya jalan untuk masuk kedalam kamarnya.

“sesuai perkiraan.” gumam Hemi saat melihat sekeliling kamar yang penuh dengan aura laki-laki tersebut. “Jung Hee eonni bilang sejak masuk kuliah kamu tidak tinggal dengan keluargamu lagi.”

Jae Hwan tidak langsung menjawab pertanyaannya. Pemuda itu berdiri tegap di tengah kamarnya dengan kedua tangan di dalam saku celana. Hemi melihatnya. Dia melihat pemuda yang dulu pernah menjadi pusat perhatiannya. Wajah tampannya tidak pernah berubah, dia selalu terlihat tegas dan bijaksana. Saat itu tiba-tiba mata Hemi menangkap sebuah benda yang terletak di atas meja kecil disamping tempat tidur. Dia berjalan menghampiri meja tersebut namun sebelum dia sempat meraih benda yang dia lihat Jae Hwan lebih dulu mengambilnya dan menyembunyikannya di belakang punggungnya jauh dari pandangan Hemi.

“ada apa?” tanya Hemi. “itu bukan pertama kali aku melihatnya, kan?”

“jangan menyentuh barang yang bukan milikmu.” Ujar Jae Hwan sambil memasukkan benda tersebut kedalam lemari pakaiannya. “kita bukan anak-anak lagi.”

Jung Hee benar ini bukan pertama kalinya dia masuk kedalam kamar Jae Hwan, saat mereka masih kecil Hemi bahkan lebih sering berada di dalam kamar Jae Hwan dibanding Jae Hwan berada dalam kamarnya sendiri. Juga tidak ada yang memarahinya saat dia melihat barang yang ada dalam kamar Jae Hwan, bahkan Jae Hwan sendiri. Tapi sepertinya kali ini situasi mereka tidak seperti dulu lagi.

“bukankah seharusnya aku yang bersikap seperti itu?” Hemi melihat Jae Hwan membeku di tempatnya. “setelah apa yang terjadi terakhir kali kita bertemu.”

Dia tersenyum samar mengingat hari terakhir mereka bertemu di sekolah. “harusnya aku yang bersikap seperti ini, Jae Hwan.”

Jae Hwan masih berdiri membelakanginya tanpa mengatakan sepatah katapun. Hemi hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Belum lagi sempat meraih pintu Jae Hwan lebih dulu meraih tubunya dan memeluknya dari belakang.

“maaf.”

Hemi terdiam dan merasakan detak jantung Jae Hwan yang berdetak kencang di punggungnya. Dia merasakan setiap hela nafas Jae Hwan di samping wajahnya.

“aku minta maaf kalau aku tidak tau kamu sakit. Aku minta maaf kalau sikapku menyakitimu saat itu. aku minta maaf kalau-“

“aku sudah melupakannya.” Potong Hemi. “aku sudah bilang padamu aku sudah melupakannya dan kamu juga harus melupakan itu.”

Hemi meraih tangan Jae Hwan untuk melepaskan pelukannya tapi sepertinya Jae Hwan masih belum berniat untuk melepaskan Hemi karena dia semakin mempererat pelukannya pada Hemi. Jae Hwan bahkan menyandarkan kepalanya di pundak Hemi.

“apa dia sayang padamu?”

“siapa?”

“pemuda itu.”

“Junho?”

“aku tidak perlu tau namanya. Aku tanya apa dia sayang padamu?”

Hemi tertawa samar mendengar pertanyaan Jae Hwan mengenai kekasihnya itu, “apa menurutmu aku akan bersamanya kalau dia tidak sayang padaku?”

“dia menyayangimu.” Kali ini bukan pertanyaan yang diucapkan Jae Hwan. Hemi mengangguk. “dia tidak akan menyakitimu seperti yang aku lakukan.”

“Jae Hwan-ah-“

“aku rindu padamu.”

Itu hanya gumaman pelan Jae Hwan tepat di telinganya. Namun mendengar kesungguhan dari suara itu Hemi bisa tau kalau Jae Hwan benar-benar merindukannya.  Setelah selama ini akhirnya dia tau dia tidak sendiri merasakan sesak di dadanya karena merindukan pemuda itu.

“aku rindu padamu dan rasanya sangat sakit.”

“setidaknya nanti saat kamu punya seseorang seperti aku mempunyai Junho saat ini, kamu akan mengerti kalau rindu itu sangat berharga.”

Jae Hwan masih memeluknya dengan erat. Merasakan wajah Jae Hwan di lekukan lehernya membuat dia menyadari perasaan itu tidak pernah pergi dari dalam hatinya. Perasaan itu hanya bersembunyi sampai saat dia bertemu kembali dengan pemuda itu.

“aku-“

“jangan bicara apa-apa.” potong Jae Hwan. “jangan bilang kalau aku harus mencari perempuan seperti Junho-mu. Karena aku tidak akan mencarinya.”

Hemi tertawa, “kamu tidak perlu mencari yang seperti Junho. Kamu harus mencari yang seperti hatimu inginkan.”

“Jae Hwan-ah,”

“hm?”

“apa kita akan berdiri dengan posisi seperti ini terus?” Hemi meletakkan tangannya diatas tangan Jae Hwan yang melingkat di pundaknya. “maaf, sebenarnya aku tidak ingin mengcaukan suasana tapi sepertinya posisi seperti ini membuatku canggung karena mendengar yang kamu bilang kalau sekarang kita bukan anak-anak lagi, jadi-“

Hemi tidak melanjutkan kata-katanya karena Jae Hwan berlahan melepaskan pelukannya dan berdiri dengan sikap salah tingkah. Sementara Hemi tidak berani melihat kearahnya karena yakin pemuda itu pasti bisa melihat wajahnya yang bersemu merah apalagi dengan kulitnya yang putih pucat, semburat merah pasti akan muncul dengan sangat jelas di sekitar pipinya. Dan dalam keadaan seperti itu Hemi yang berdiri di belakang pintu tiba-tiba terdorong dan kemudian kembali dalam pelukan Jae Hwan hanya saja kali ini mereka saling berhadapan saat pintu dibuka dari luar.

“apa yang sedang kalian lakukan?” suara Jung Hee mendadak membuat mereka saling melepaskan diri satu sama lain. “kalian tidak sedang melakukan hal yang tidak-tidak saat ada lima orang tua di lantai bawah, kan?”

“noona!”

Jung Hee berjalan dengan mata menyipit menatap Jae Hwan, “kamu tidak sedang melakukan hal yang aneh pada Hemi-ku, kan?”

“Noona!”

Jung Hee menoleh kearah Hemi, “kenapa wajahmu memerah seperti itu? sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?”

“Noona!” teriak Jae Hwan untuk ketiga kalinya, “Hemi sedang berdiri dibelakang pintu waktu noona tiba-tiba mendorong pintunya jadi dia terdorong kearahku.”

“aaahhh….jadi kalian tidak sengaja berpelukan?”

“eonni!”

“noona!” Hemi dan Jae Hwan berteriak bersamaan kearah Jung Hee,

“baiklah-baiklah, aku mengerti. Kalau tidak terjadi apa-apa kenapa wajah kalian memerah seperti udang rebus seperti itu.” gumam Jung Hee sambil menatap mereka dengan curiga. “aku jadi ingin makan udang.”

“ya sudah. Kalian disuruh kebawah.” Jung Hee menunggu sampai mereka berdua keluar dari kamar baru setelah itu menyusul dibelakang mereka.

Hemi tidak berani melihat kearah Jae Hwan saat berjalan berdampingan dengannya menuruni tangga sampai kedalam ruang tengah. Dia melihat kedua orang tuanya dan orang tua Jae Hwan serta nenek Lee sedang menikmati berbagai hidangan buah.

“Hemi, ayo ikut makan disini.” Paman Hyang Soen, ayah Jae Hwan menepuk pelan kursi disampingnya meminta Hemi untuk duduk diantara dia dan istrinya, Bibi Ji Yoo.

“nanti kalau kamu sudah mulai kuliah dan tinggal di Seoul kamu harus sering main kemari.” Hemi mengangguk saat mendengar permintaan bibi Ji Yoo. “bibi sangat kehilangan kamu waktu kamu pindah. Apalagi waktu dengar kamu harus ikut kakek nenekmu ke irlandia. Kami semua sangat khawatir.”

“aku baik-baik saja.”

Hemi melihat wanita paruh baya itu mengangguk dengan wajah haru sambil menatapnya. “tentu, tentu. Kamu baik-baik saja dan kembali kemari dengan wajah cantik seperti bidadari.”

Dia merengut, “jadi dulu aku tidak cantik sama sekali?” Hemi mendengar mereka tertawa dan salah satunya dia mendengar suara tawa Jae Hwan.

“tentu saja kamu cantik sejak dulu.” Ji Yoo kembali membenarkan ucapan yang dia katakan sebelumnya. “tapi dulu kamu masih kecil dan masih jadi boneka chubby dan sekarang kamu seperti bidadari. Bibi senang kamu tidak mengubah warna rambutmu. Kamu tau, kamu sudah punya warna rambut yang indah sejak dari lahir.”

Hemi membelai rambut coklat kemerahannya yang sama persis seperti yang dimiliki ibunya meski terlihat lebih terang. “aku senang dengan warna rambutku.”

Sekilas dia melirik Jae Hwan dan menyadari wajah pemuda itu kembali berubah. Mungkin pemuda itu juga tidak bisa melupakan setiap kata hinaan yang dia dengar di sekolah salah satunya adalah karena warna rambutnya.

“aku dengar sekarang warna ini sudah jadi tren di kalangan idol.” Tambah Hemi. “setidaknya aku tidak perlu mewarnai rambutku karena ini asli.”

Sejak berada di rumah sakit dengan banyak orang yang mempunyai warna rambut yang sama, Hemi merasa bangga kalau dia terlahir dengan warna rambut seperti itu. Karena dia selalu merasa terasingkan karena perbedaannya yang dia miliki dengan orang lain namun berada dirumah sakit dan mendengar pujian dari orang-orang yang mengagumi warna rambutnya yang unik Hemi menyesal karena pernah merasa malu dengan yang sudah dia miliki.

*****

Jae Hwan melipat kedua tangannya di depan dada saat berdiri melihat keluarganya dan keluarga Hemi saling bercengkrama di ruang tengah rumah mereka. Menyembunyikan tanganya yang terkepal sejak berada di ruangan itu, Jae Hwan tidak tau harus melakukan apa. Dia masih memang Hemi yang dia kenal selalu tersenyum dan menganggap semua masalah sudah selesai hanya dengan mendiamkannya dan menganggap semuanya selesai.

“Jae Hwan-ah,”

Dia menoleh saat Min Woo, suami kakaknya memanggil namanya. “hm?”

“Paman Byeong Hee memanggilmu.”

Jae Hwan melihat ayah Hemi memanggilnya ke ruangan yang menuju halaman belakang. Dia melihat pria yang dia kenal sejak masih kecil itu berdiri dengan tegap di teras halaman belakangnya.

“Paman,”

“oh, Jae Hwan.” Pria itu berdiri menunggunya sampai mereka berdiri berdampingan. Untuk beberapa saat mereka tidak berkata apa-apa.

“kamu suka pada Hemi?”

“ne?”

Byung Hee tertawa samar melihat Jae Hwan terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkannya. “sejak awal kalian berteman, semua sudah menyadarinya. Kamu selalu menjaganya-“

“paman, aku-“

“tapi saat kami tau apa yang terjadi disekolah kalian sebelum kami pindah paman sempat kecewa padamu.

“aku minta maaf,”

“Hemi putri kami satu-satunya meskipun pemuda itu kelihatan perhatian pada Hemi. tapi kami tidak mempercayainya. Saat Hemi mulai tinggal di Seoul, jaga dia baik-baik seperti adikmu. Hm? Paman minta tolong padamu.”

Hanya dengan begitu Paman Byung Hee menepuk pelan pundaknya dan kembali kedalam namun Jae Hwan tau apa yang dia inginkan dan tidak dia inginkan. “paman,”

Byung Hee berbalik melihatnya, “aku akan menjaganya.”

“terima kasih.”

“tapi tidak sebagai adikku.” Dia melihat ayah Hemi menatapnya dengan tatapan serius. “aku tidak menyukainya hanya karena dia berubah menjadi seperti sekarang ini. Aku bersumpah aku tidak memandangnya seperti itu. Tapi aku memang menyukainya.”

Jae Hwan membeku saat Byung Hee melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap lurus kedalam matanya. Dia merasa seakan pria paruh baya itu sedang menyusuri kesungguhan dari dalam hatinya.

“apa menurutmu Hemi akan percaya padamu?”

Jae Hwan terdiam. Walaubagaimanapun pria ini lebih tau darinya. Siapapun pasti akan menyangka dia menyukai Hemi yang ‘sekarang’ jika dia menyatakan perasaannya kalau dia menyukai gadis itu.

“Hemi menyukaimu. “ gumam Byung Hee. “setidaknya dia pernah menyukaimu. Semua tergantung bagaimana kalian bisa memperbaiki keadaan menjadi seperti dulu. kamu tidak bisa mengubah masa lalu, nak. Kamu harus menjadikan masa depanmu menjadi lebih baik dengan mencoba yang terbaik sekarang.”

Jae Hwan tersenyum, “dulu Hemi juga pernah menuliskan kata-kata itu buatku.”

“Hemi selalu yakin untuk kehidupannya yang lebih baik.” Jae Hwan melihat pria itu menghembuskan nafas panjang sembari melihat lurus kedepan. “anak itu tidak pernah sekalipun menyerah. Dia tidak banyak bicara, tapi dia selalu tau apa yang ada dalam pikiran dan hatinya.”

“paman dan bibi percaya padamu. Jadi jaga Hemi baik-baik kali ini atau kesempatan itu tidak akan datang lagi.”

Jae Hwan mengangguk. “aku janji.”

***

Melihatnya kembali dengan ekspresi yang seakan menunjukkan dia jauh lebih baik dari yang seharusnya tidak membuat Jae Hwan merasa lebih baik. Dia bahkan merasa jauh lebih buruk saat mengetahui Hemi mendapatkan semua yang tidak bisa dia berikan. Dia mendapatkan jalannya, hanya sekarang dia memerlukan caranya. Tidak memperbaiki masa lalu, tapi membuat masa depannya menjadi lebih baik. Dia tidak akan menyerah, Hemi adalah sesuatu yang harus dia perjuangkan setelah selama empat tahun menyesali dan menunggu…

beautiful-tubby

[Chaptered] Beautiful Tubby (Chapter 3)

beautiful-tubby

Title : Beautiful Tubby (Chapter 3)

Author : DkJung

Main Casts :

  • [OC] Jung Hayeon
  • [VIXX] Han Sanghyuk
  • [BTS] Kim Seokjin
  • [VIXX] Lee Jaehwan
  • [VIXX] Lee Hongbin
  • [BTOB] Lee Minhyuk

Support Casts :

  • [OC] Choi Minhee
  • [OC] Kim Nayeon
  • [OC] Park Taehee
  • [OC] Jung Najung

Genre : School Life, Romance, Friendship, A little bit sad

Rating : PG 13

Length : Chaptered

Disclaimer : ide ff ini terinspirasi dari berat badan aku yang sangat tidak ideal, alias gendut -__- juga ada beberapa ide dari Thai Movie ‘Crazy Litle Thing Called Love’.

Note : ini ff remake. udah pernah dipost di blog lain dengan perbedaan cast (author sama)

Summary :

Namanya Jung Hayeon. Siswi kelas satu SMA yang berat badannya melebihi batas normal, atau bisa dibilang, gendut. Badannya bulat, pipinya sangat tembam. Teman-temannya sudah berkali-kali memperingatkannya agar Hayeon tidak makan terlalu banyak. Namun percuma, ia tidak pernah mau mendengarnya. Hayeon tidak pernah peduli masalah tubuh langsing dan sebagainya. Dia tetap enjoy walaupun tubuhnya gendut.

Hingga suatu hari, ia bertemu seorang namja yang membuatnya jatuh hati. Ia pun mulai mencoba mendekati namja itu. Di saat ia baru memulai usahanya itu, namja yang dia sukai berkata, “Aku tidak suka yeoja gendut,” dengan ketus.

Pasca namja yang ia sukai berkata seperti itu, Hayeon jadi semakin ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi apa yang namja itu inginkan.

 #Chapter 2#
Continue reading

Let the World Knows your Talent

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.